| Berita | |
| Relawan, Hamba Tuhan Terbaik | |
| Ditulis oleh Ugi | |
| 10-03-2010 | |
Siapakah relawan itu ? Sosok yang bercitra mulia ini selalu hadir di lokasi-lokasi bencana. Baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Kadang hadir apa adanya, tanpa seragam dan atribut. Bahkan juga dengan keterampilan seadanya. Bekalnya “cuma” niat dan semangat untuk membantu sesama. Kadang, relawan juga tampil dengan atribut lengkap. Peralatan hingga logistiknya pun komplit. Termasuk uniform bertuliskan besar-besar “Relawan” berikut logo lembaga dan sponsor. Semua, baik yang tampil siap tempur maupun yang modal niat dan semangat (bukan nekad) , berbaur menyalurkan ekspresi kepeduliannya di tiap lokasi bencana. Kepedulian, itulah kata kunci dari kerelawanan. “Relawan adalah orang atau sejumlah orang, baik terorganisir maupun tidak, yang mendedikasikan potensi yang dimilikinya untuk membantu mengatasi permasalahan orang lain tanpa mengharapkan pamrih,” demikian ditegaskan Ahyudin, Presiden Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) ketika membuka Raker I Aksi Cepat Tanggap – MRI Wilayah Jawa Barat di Hotel Baltika, Bandung, Jumat (5/3/2010). Dalam Raker 2 hari itu, para relawan yang tergabung dalam MRI Wilayah Jawa Barat berbagi pemikiran tentang program-program kemanusiaan yang bisa mereka jalankan. Bagaimana mungkin bisa dan mau “mendedikasikan potensi yang dimiliki untuk membantu mengatasi permasalahan orang lain tanpa mengharapkan pamrih” kalau tidak punya kepedulian ? Coba simak lagi kata Ahyudin tentang kerelawanan. Beliau bilang, karakteristik dasar relawan adalah memiliki jiwa simpati dan empati. Relawan juga memiliki sikap peka dan peduli. Semangat, pemberani, dan bertanggungjawab. Mereka bekerja dengan prinsip ikhlasan, tanpa motivasi pamrih materi. Sebab, relawan tak sama dengan buruh, karyawan, atau pegawai. Relawan lebih suka memberi, bukan menerima. Maka, eksistensi seorang relawan bermanfat untuk orang lain. “Kerelawanan adalah sifat dari orang-orang peduli. Ia adalah mata pisau dari kepedulian. Sebagaimana kepedulian adalah solusi, maka kerelawanan juga merupakan solusi. Maka, kerelawanan harus terus dikembangkan menjadi kebudayaan dan peradaban,” tandas Ahyudin. Apa syarat menjadi relawan ? Pertanyaan itu sering diajukan melalui telepon, SMS dan email ke ACT. Jawabnya sederhana saja. Setiap orang memenuhi syarat untuk menjadi relawan ! Termasuk yang mengirim telepon, SMS dan email itu. Sebab, syarat utama untuk menjadi relawan adalah memiliki kepedulian. Langkah menelepon, SMS dan email itu sudah memperlihatkan adanya kepedulian dalam diri si penelepon dan pengirim SMS maupun email itu. Bayu Gawtama, Sekjen MRI, bahkan menegaskan, “Siapapun boleh dan bisa menjadi relawan !” Mengapa begitu ? Sebab setiap manusia, secara fitrah, memiliki kepedulian. Seperti ditegaskan Ahyudin pula, kepedulian adalah fitrah setiap manusia. Karena kepedulian merupakan fitrah, maka kepedulian adalah kebutuhan setiap manusia. Dengan kepedulian inilah manusia menegaskan eksistensinya sebagai mahluk sosial. Fitrah manusia adalah cenderung kepada ketakwaan. Dengan demikian, kepedulian menjadi buah dari ketakwaan. Ia menjadi antagonis dari individualis, hedonis, pelit, kikir, cuek, dan sombong. “Dan hamba Tuhan terbaik adalah hamba Tuhan yang paling peduli,” tandas Ahyudin. Tak salah kan kalau kita sebut relawan adalah hamba Tuhan terbaik ? |
|
| Berita Lainnya... |
![]() Net Banking |
![]() Pay Pal |
![]() Jemput |
| Klik di sini untuk melihat donatur dan donasinya |
![]() Konfirmasi |
![]() Cek |
Beli Berarti Donasi untuk Paket Pangan Bergizi. Pilih Merchandise dengan mengklik gambar.
Film Pendek Kemanusiaan
| PALESTINA |
| Video Lainnya... |
|
Video Lainnya... |
Aksi Kemanusiaan bersama Mitra
Berita Foto